
Kamu mungkin sudah merasa hidup “cukup”. Bisa bayar sewa, nongkrong sesekali, bahkan masih bisa nabung sedikit. Tapi entah kenapa, tiap bulan rasanya tetap deg-degan. Sekali ada pengeluaran tak terduga motor rusak, tagihan rumah sakit, atau laptop kerja tiba-tiba mati semua rencana keuangan bisa berantakan.
Itulah realita banyak masyarakat kelas menengah saat ini. Terlihat aman dari luar, tapi sesungguhnya rapuh di dalam. Fenomena ini dikenal dengan istilah middle class squeeze tekanan finansial yang dirasakan kelompok berpenghasilan menengah karena biaya hidup naik lebih cepat daripada penghasilan mereka.
Banyak kelas menengah terlihat hidup “aman”, tapi sebenarnya rentan secara finansial. Biaya hidup yang naik, tanggungan ganda, dan gaya hidup yang ikut terdorong membuat penghasilan terasa selalu pas-pasan. Inilah yang disebut middle class squeeze: kondisi ketika hidup terasa cukup, tapi rasa cemas soal uang hampir selalu ada. Karena itu, pengelolaan keuangan yang lebih sadar dan terencana jadi kunci agar tetap stabil dan tidak mudah goyah.
Menurut Bank Dunia (World Bank, 2025), kelas menengah di Indonesia adalah mereka yang berpenghasilan sekitar Rp4 juta hingga Rp12 juta per bulan per individu cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar tapi belum benar-benar sejahtera. Data BPS (2025) juga menunjukkan bahwa 40% dari kelompok ini menanggung sebagian besar biaya ekonomi nasional: konsumsi, cicilan, pendidikan, dan pajak.
Masalahnya, meskipun mereka menjadi tulang punggung ekonomi, kelas menengah justru paling rentan ketika inflasi meningkat. Harga kebutuhan pokok, pendidikan, dan perumahan terus naik, sementara pertumbuhan upah riil stagnan.
Artinya, mereka bukan miskin tapi juga belum benar-benar “aman”. Mereka hidup di zona abu-abu antara “cukup” dan “cemas”.
Kelas menengah sering terlihat mapan: punya pekerjaan tetap, mungkin cicilan rumah, dan gaya hidup yang tampak stabil. Namun di balik itu, banyak yang menghadapi tekanan finansial dari berbagai sisi.
Ada tiga hal penting yang bisa dilakukan oleh kelas menengah agar tetap stabil meski tekanan ekonomi meningkat.
Bukan sekadar anjuran klasik, tapi fondasi agar kamu tidak jatuh setiap kali ada pengeluaran tak terduga. Idealnya, sisihkan 10–20% penghasilan tiap bulan sampai terkumpul 3–6 kali pengeluaran bulanan.
Beli barang boleh, tapi pastikan punya nilai jangka panjang. Contohnya, laptop kerja bisa disebut aset karena membantu produktivitas, sedangkan kredit barang konsumtif yang cepat turun nilai bisa jadi beban.
Dengan aplikasi seperti Finku, kamu bisa melacak arus uang masuk dan keluar tanpa repot. Finku membantu kamu membuat budget, menetapkan tujuan finansial, dan memastikan keuangan tidak hanya “cukup hari ini”, tapi juga aman untuk besok.
Menjadi kelas menengah hari ini berarti hidup di antara dua sisi: cukup untuk merasa aman, tapi belum cukup untuk benar-benar tenang. Tantangan terbesar bukan sekadar inflasi atau ekonomi, tapi bagaimana kita mengelola rasa cemas yang datang bersamaan dengan tagihan dan tanggung jawab.
Namun, selalu ada jalan untuk membuat hidup finansial lebih stabil mulai dari mengenali kondisi, menata prioritas, dan membangun sistem keuangan yang sehat. Kalau kamu ingin mulai melangkah tanpa stres, gunakan Finku. Finku membantu kamu memahami keuanganmu, menjaga arus kas tetap aman, dan perlahan-lahan keluar dari tekanan hidup “cukup tapi cemas”.



