Lifestyle

The New Broke: Ketika “Sukses di Sosial Media” Nggak Sama dengan Stabil Finansial

Terakhir diupdate 29 Desember 2025
Ditinjau oleh:
Reza Riwanda
Tim Finku
The New Broke: Ketika “Sukses di Sosial Media” Nggak Sama dengan Stabil Finansial

Di Instagram, hidupnya terlihat sempurna. Liburan tiap bulan, outfit mahal, nongkrong di kafe estetik. Tapi di balik layar, saldo rekening bisa jadi kosong sebelum tanggal muda datang. Fenomena ini dikenal sebagai “the new broke” terlihat sukses di luar, tapi goyah di dalam.


Era digital membuat banyak orang berlomba membangun citra “berhasil”, bahkan sebelum finansialnya siap. Dan di situlah masalah baru muncul: tekanan untuk terlihat kaya, bukan untuk benar-benar aman.


Ringkasan artikel

Fenomena “The New Broke” muncul seiring dunia digital yang membuat banyak orang terlihat sukses dari luar, tetapi sebenarnya rapuh secara finansial. Media sosial menciptakan standar hidup yang tinggi dan tidak realistis, sehingga tekanan untuk selalu tampil “mampu” mendorong konsumsi impulsif mulai dari fashion, lifestyle, sampai upgrade gaya hidup yang sebenarnya tidak sesuai kemampuan.


Akibatnya, banyak anak muda yang tampak stabil secara online, namun kenyataannya memiliki cashflow yang sempit, tabungan minim, dan sulit mempertahankan keseimbangan finansial.


Dalam kondisi ini, kesehatan finansial menjadi jauh lebih penting daripada impresi digital. Memahami batas diri, mencatat pengeluaran, serta mengatur ulang prioritas hidup adalah langkah penting agar tidak terjebak dalam ilusi sukses di dunia maya.


Asal Mula Fenomena The New Broke

Menurut studi Deloitte (2025), 71% Gen Z merasa tekanan untuk “terlihat sukses” di media sosial. Fenomena ini muncul karena budaya digital mengaburkan batas antara inspirasi dan kompetisi. Yang dulu cuma lihat, sekarang harus punya.


Tekanan itu bikin banyak orang menghabiskan uang untuk membangun citra online bukan kenyamanan nyata. The new broke lahir bukan dari kemiskinan, tapi dari perbandingan.


Dampak Sosial Media terhadap Keputusan Finansial

  • Pertama, konsumsi impulsif. Konten haul, outfit check, dan “treat yourself day” mendorong belanja tanpa tujuan jelas.
  • Kedua, distorsi realita. Melihat orang lain tampil sempurna bikin kamu lupa bahwa setiap orang punya konteks ekonomi berbeda.
  • Ketiga, mental pressure. Kamu mulai merasa gagal hanya karena gaya hidupmu nggak sepadan dengan yang kamu lihat.

Cara Lepas dari Siklus “Terlihat Kaya, Tapi Bokek”

  • Langkah pertama: detoks sosial media finansial. Kurangi konsumsi konten yang bikin kamu membandingkan diri secara ekonomi.
  • Langkah kedua: tentukan versi sukses kamu sendiri. Apakah itu saldo aman, punya waktu luang, atau bisa bantu keluarga?
  • Langkah ketiga: pakai alat bantu untuk kontrol keuangan. Dengan Finku, kamu bisa tahu kondisi finansial nyata tanpa tekanan eksternal fokus ke kesejahteraan pribadi, bukan validasi online.

Penutup

Kehidupan finansial sehat bukan tentang siapa yang paling kelihatan sukses, tapi siapa yang paling paham batasnya. Kalau kamu merasa terjebak di antara gengsi dan realita, waktunya berhenti pamer dan mulai sadar.

Gunakan Finku untuk melihat kondisi keuanganmu apa adanya bukan untuk dibandingkan, tapi untuk diperbaiki agar goals keuangan kamu tetap on track


⚠️
Disclaimer : Semua artikel dari Finku ditujukan untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan nasihat keuangan.
Berikan penilaianmu: