
Satu malam, Kamu scroll Instagram dan lihat feed temanmu: “Dapet untung 50% dari saham X.” Besoknya, Kamu buru-buru alokasikan tabunganmu ke saham itu juga takut ketinggalan tren. Tapi hasilnya? Harga sahamnya malah anjlok, dan Kamu stres sendiri.
Kisah ini mungkin pernah Kamu alami atau lihat di sekitar Kamu. Itulah bahaya FOMO (Fear of Missing Out) dalam investasi: dorongan emosional untuk ikut-ikutan tanpa rencana membuat kita sering luput mempertimbangkan risiko.
FOMO dalam investasi sering membuat kita tergoda ikut tren tanpa rencana yang matang. Melihat orang lain pamer cuan di media sosial bisa memicu keputusan impulsif, mulai dari membeli di harga puncak hingga mengalokasikan seluruh tabungan ke satu instrumen. Padahal, keputusan yang diambil karena emosi justru meningkatkan risiko kerugian, stres, dan hilangnya kendali atas keuangan. Artikel ini menekankan pentingnya investasi yang dilakukan dengan kepala dingin: punya tujuan jelas, memahami risiko, menjaga dana cadangan, dan tidak tergoda untuk all-in hanya karena hype sesaat. Karena pada akhirnya, investasi bukan soal siapa yang paling cepat ikut tren, tapi siapa yang paling konsisten dan sadar arah keuangannya sendiri.
FOMO atau dikenal sebagai Fear of Missing Out. Adalah rasa takut tertinggal ketika orang lain tampak meraih keuntungan di suatu trend finansial. Fenomena ini makin meningkat seiring media sosial dan akses investasi instan. Menurut “Liputan6”, Gubernur Bank Indonesia pernah memperingatkan generasi muda agar “jangan FOMO investasi karena gengsi” artinya, jangan ikut-ikutan hanya karena ingin tampil.
Di sisi global, Forbes juga memberi peringatan agar investor tidak menyerah pada tekanan sosial: ““Fear of missing out makes it hard to be a disciplined investor.” Forbes”
Jadi, FOMO bukan hanya soal keinginan untuk mengambil peluang, tetapi tentang mengambil keputusan dengan prematur dan emosional.
Karena dorongan “ingin segera ikut,” kita sering lupa riset atau memahami instrumen itu bisa membeli di puncak harga.
Kalau semua uang yang ada dipakai untuk investasi tren, saat rugi nggak ada cadangan lagi.
Setelah investasi turun, bisa timbul rasa panik & keputusan buru-buru. Itu melanggar prinsip disiplin investasi.
Dalam dunia kripto, banyak investor kecil beli koin yang baru viral tapi segera merugi saat hype mereda. Lewat pemberitaan oleh “Liputan6.com”, di Indonesia fenomena ini mendapat sorotan: media lokal memperingatkan agar millenial atau gen-z tidak ikut-ikutan investasi tanpa paham, karena bisa jadi mereka kena rugi besar.
Agar tidak ikut-ikutan tren, mulailah dari rencana investasi yang jelas sesuai tujuanmu. Pastikan juga punya dana cadangan, supaya tidak panik saat pasar turun. Alih-alih langsung all-in, masuklah bertahap dengan nominal kecil dan sebar investasi ke beberapa instrumen agar risikonya lebih seimbang. Yang tak kalah penting, beri jeda sebelum membeli aset yang sedang hype dan batasi konsumsi konten investasi yang terlalu memancing emosi. Investasi yang sehat butuh waktu, bukan reaksi cepat.
FOMO memang terasa “menggoda” apalagi saat teman atau influencer di media sosial memamerkan cuan besar dari investasinya. Tapi ingat, perjalanan finansial tiap orang itu berbeda. Yang terlihat menguntungkan di luar sana belum tentu cocok dengan kondisi Kamu hari ini.
Investasi seharusnya bukan ajang lomba siapa yang paling cepat kaya, tapi tentang siapa yang paling konsisten dan sadar arah keuangannya. Kalau Kamu masih sering bingung “berapa yang aman buat diinvestasikan?”, atau “gimana cara atur gaji biar tetap bisa nabung tapi nggak keteteran?”, Finku bantu Kamu hitung dan atur semuanya secara otomatis. Mulai dari pencatatan pengeluaran, bikin budget, sampai simulasi berapa uang yang udah Kamu keluarkan untuk investasi biar goals Kamu tercapai.
Karena di Finku, Kamu nggak cuma belajar ngatur uang, tapi juga belajar nyaman sama uangmu sendiri.



