Investasi

Bukannya Cuan Malah Rungkad! Begini Cara Investasi Bijak Biar Gak Boncos

Terakhir diupdate 16 Januari 2026
Ditinjau oleh:
Reza Riwanda
Tim Finku
Bukannya Cuan Malah Rungkad! Begini Cara Investasi Bijak Biar Gak Boncos

Satu malam, Kamu scroll Instagram dan lihat feed temanmu: “Dapet untung 50% dari saham X.” Besoknya, Kamu buru-buru alokasikan tabunganmu ke saham itu juga takut ketinggalan tren. Tapi hasilnya? Harga sahamnya malah anjlok, dan Kamu stres sendiri.


Kisah ini mungkin pernah Kamu alami atau lihat di sekitar Kamu. Itulah bahaya FOMO (Fear of Missing Out) dalam investasi: dorongan emosional untuk ikut-ikutan tanpa rencana membuat kita sering luput mempertimbangkan risiko.


Ringkasan Artikel

FOMO dalam investasi sering membuat kita tergoda ikut tren tanpa rencana yang matang. Melihat orang lain pamer cuan di media sosial bisa memicu keputusan impulsif, mulai dari membeli di harga puncak hingga mengalokasikan seluruh tabungan ke satu instrumen. Padahal, keputusan yang diambil karena emosi justru meningkatkan risiko kerugian, stres, dan hilangnya kendali atas keuangan. Artikel ini menekankan pentingnya investasi yang dilakukan dengan kepala dingin: punya tujuan jelas, memahami risiko, menjaga dana cadangan, dan tidak tergoda untuk all-in hanya karena hype sesaat. Karena pada akhirnya, investasi bukan soal siapa yang paling cepat ikut tren, tapi siapa yang paling konsisten dan sadar arah keuangannya sendiri.


Apa Itu FOMO dalam Investasi?

FOMO atau dikenal sebagai Fear of Missing Out. Adalah rasa takut tertinggal ketika orang lain tampak meraih keuntungan di suatu trend finansial. Fenomena ini makin meningkat seiring media sosial dan akses investasi instan. Menurut Liputan6, Gubernur Bank Indonesia pernah memperingatkan generasi muda agar “jangan FOMO investasi karena gengsi” artinya, jangan ikut-ikutan hanya karena ingin tampil.


Di sisi global, Forbes juga memberi peringatan agar investor tidak menyerah pada tekanan sosial: “Fear of missing out makes it hard to be a disciplined investor.” Forbes


Jadi, FOMO bukan hanya soal keinginan untuk mengambil peluang, tetapi tentang mengambil keputusan dengan prematur dan emosional.


Kenapa FOMO Bisa Risiko Besar

a) Investasi Tanpa Analisis

Karena dorongan “ingin segera ikut,” kita sering lupa riset atau memahami instrumen itu bisa membeli di puncak harga.


b) Modal Terkuras Cepat

Kalau semua uang yang ada dipakai untuk investasi tren, saat rugi nggak ada cadangan lagi.


c) Emosi Mengambil Alih

Setelah investasi turun, bisa timbul rasa panik & keputusan buru-buru. Itu melanggar prinsip disiplin investasi.


Gejala & Contoh Nyata FOMO

Gejala FOMO dalam investor:

  • Anda cepat membeli setelah harga melonjak
  • Anda sering cek media sosial tentang “trending assets”
  • Anda merasa harus investasi agar tidak tertinggal
  • Anda belum punya strategi & keputusan sering berubah

Contoh Nyata

Dalam dunia kripto, banyak investor kecil beli koin yang baru viral tapi segera merugi saat hype mereda. Lewat pemberitaan oleh Liputan6.com, di Indonesia fenomena ini mendapat sorotan: media lokal memperingatkan agar millenial atau gen-z tidak ikut-ikutan investasi tanpa paham, karena bisa jadi mereka kena rugi besar.


Strategi Agar Tak Terjebak FOMO

Agar tidak ikut-ikutan tren, mulailah dari rencana investasi yang jelas sesuai tujuanmu. Pastikan juga punya dana cadangan, supaya tidak panik saat pasar turun. Alih-alih langsung all-in, masuklah bertahap dengan nominal kecil dan sebar investasi ke beberapa instrumen agar risikonya lebih seimbang. Yang tak kalah penting, beri jeda sebelum membeli aset yang sedang hype dan batasi konsumsi konten investasi yang terlalu memancing emosi. Investasi yang sehat butuh waktu, bukan reaksi cepat.


Penutup

FOMO memang terasa “menggoda” apalagi saat teman atau influencer di media sosial memamerkan cuan besar dari investasinya. Tapi ingat, perjalanan finansial tiap orang itu berbeda. Yang terlihat menguntungkan di luar sana belum tentu cocok dengan kondisi Kamu hari ini.


Investasi seharusnya bukan ajang lomba siapa yang paling cepat kaya, tapi tentang siapa yang paling konsisten dan sadar arah keuangannya. Kalau Kamu masih sering bingung “berapa yang aman buat diinvestasikan?”, atau “gimana cara atur gaji biar tetap bisa nabung tapi nggak keteteran?”, Finku bantu Kamu hitung dan atur semuanya secara otomatis. Mulai dari pencatatan pengeluaran, bikin budget, sampai simulasi berapa uang yang udah Kamu keluarkan untuk investasi biar goals Kamu tercapai.


Karena di Finku, Kamu nggak cuma belajar ngatur uang, tapi juga belajar nyaman sama uangmu sendiri.






⚠️
Disclaimer : Semua artikel dari Finku ditujukan untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan nasihat keuangan.
Berikan penilaianmu: