Investasi

Antara Cuan dan Cemas: Kenapa Investasi Bisa Bikin Deg-degan

Terakhir diupdate 19 Januari 2026
Ditinjau oleh:
Reza Riwanda
Tim Finku
Antara Cuan dan Cemas: Kenapa Investasi Bisa Bikin Deg-degan

Investasi, katanya, adalah jalan menuju kebebasan finansial. Tapi buat sebagian orang, justru jadi sumber stres baru. Notifikasi saham merah, kripto turun, atau reksa dana minus bikin tidur nggak nyenyak dan dompet terasa ikut panas.


Fenomena ini dikenal sebagai financial anxiety, kondisi di mana keputusan keuangan justru memicu kecemasan, bukan ketenangan. Padahal, tujuan investasi seharusnya bikin hidup lebih aman, bukan malah bikin deg-degan setiap pagi buka aplikasi trading.


Rangkuman Artikel

Bagi banyak orang, investasi bukan cuma soal cuan, tapi juga sumber kecemasan. Dorongan FOMO, kurangnya pemahaman risiko, dan kebiasaan memantau portofolio berlebihan membuat investasi terasa menegangkan. Padahal, tanpa sistem dan strategi yang jelas, investasi bisa menggerus rasa aman alih-alih membangunnya.


Ketika Investasi Jadi Ajang FOMO

Di media sosial, investasi sering digambarkan glamor: grafik naik, testimoni sukses, dan janji “cuan besar tanpa repot.” Akibatnya, banyak orang mulai berinvestasi bukan karena siap, tapi karena takut tertinggal.


Menurut laporan CNBC Indonesia (2025), hampir 48% investor muda mengaku keputusan investasinya dipengaruhi oleh rekomendasi media sosial. Sayangnya, hanya separuh dari mereka benar-benar paham risiko aset yang mereka beli.


Fenomena ini menciptakan pola baru: FOMO finansial. Bukan lagi takut ketinggalan tren fashion, tapi ketinggalan tren cuan. Dan seperti semua keputusan impulsif, hasilnya sering tidak seindah ekspektasi.


Dari Financial Growth ke Financial Anxiety

Financial anxiety bukan cuma tentang kehilangan uang. Ini tentang kehilangan rasa aman.


Menurut riset Forbes Advisor (2024), 63% Gen Z merasa cemas setiap kali melihat portofolio investasinya. Bukan karena mereka kehilangan besar, tapi karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


Kecemasan finansial muncul ketika:

  • Kita tidak tahu apa yang kita lakukan.
  • Kita menginvestasikan uang yang seharusnya untuk kebutuhan dasar.
  • Kita terlalu sering mengecek pergerakan harga.

Investasi tanpa pondasi edukasi membuat orang emotionally invested, bukan strategically invested.


Strategi Tenang dalam Dunia Investasi yang Goyang

  • Pertama, kenali profil risiko. Kamu harus tahu apakah kamu tipe konservatif, moderat, atau agresif. Jangan ikut strategi orang lain hanya karena hasilnya viral.
  • Kedua, pisahkan dana hidup dan dana investasi. Jangan gunakan uang kebutuhan bulanan untuk “uji coba saham.”
  • Ketiga, buat sistem pantauan yang realistis. Gunakan aplikasi seperti Finku untuk memisahkan, melacak, dan menganalisis portofolio dengan tenang tanpa harus buka chart tiap jam. Dengan sistem ini, kamu bisa tetap berinvestasi tanpa kehilangan ketenangan mental.

Penutup

Investasi seharusnya memberi kebebasan, bukan tekanan. Kalau kamu merasa cemas setiap buka aplikasi finansial, itu tanda kamu butuh sistem yang lebih tenang, bukan return lebih besar.


Gunakan Finku untuk bantu kamu menyeimbangkan antara strategi dan ketenangan. Karena di dunia yang serba cepat ini, bukan siapa yang paling cepat cuan yang menang, tapi siapa yang paling tenang menghadapi fluktuasi.





⚠️
Disclaimer : Semua artikel dari Finku ditujukan untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan nasihat keuangan.
Berikan penilaianmu: