Literasi Finansial

FOMO Finansial Gen Z: Kenapa Kita Ikut-ikutan Beli & Gimana Cara Berhentinya

Terakhir diupdate 16 Januari 2026
Ditinjau oleh:
Reza Riwanda
Tim Finku
FOMO Finansial Gen Z: Kenapa Kita Ikut-ikutan Beli & Gimana Cara Berhentinya

Pernah ngerasa “gatal” pengen beli sesuatu cuma karena orang lain punya? Temen upload jalan-jalan ke Jepang, Kita langsung buka Traveloka. Ada yang posting cuan dari saham, Kita buru-buru download aplikasi trading. Padahal, Kita belum tentu butuh atau ngerti risikonya.


Yap itu namanya FOMO finansial (Fear of Missing Out). Rasa takut ketinggalan tren yang bikin Kita ngambil keputusan finansial karena dorongan sosial, bukan karena kebutuhan nyata. Dan kalau gak disadari, ini bisa jadi alasan kenapa saldo Kita selalu “numpang lewat”.


Ringkasan Artikel

FOMO finansial membuat banyak Gen Z mengambil keputusan keuangan karena dorongan sosial, bukan kebutuhan nyata. Melihat orang lain liburan, beli barang baru, atau pamer cuan di media sosial sering memicu rasa “harus ikut”, meski kondisi finansial belum tentu siap. Tekanan ini diperkuat oleh algoritma dan budaya pamer versi terbaik di dunia digital, yang akhirnya bikin uang terasa cepat habis tanpa disadari.


Apa Itu Financial FOMO Versi Sehari-hari

Bayangin dompet Kita kayak ember. Setiap kali liat orang lain upload hal keren di feed gadget baru, outfit aesthetic, saham naik, atau liburan ke Bali muncul suara kecil di kepala: “Gue juga harus punya.” Nah, setiap “harus punya” itu kayak lubang kecil di ember Kita. Lama-lama bocor. Masalahnya bukan di penghasilan Kita, tapi di perasaan “kalau gak ikut, gue ketinggalan.”


FOMO finansial itu campuran antara tekanan sosial dan keinginan diakui. Dan makin sering scroll TikTok atau IG, makin kuat dorongannya.


Fakta & Studi Kasus: Gen Z dan FOMO di Dunia Nyata

  • 70% Gen Z mengaku sering mengalami FOMO finansial "di Amerika Serikat" (Empower, 2024). Artinya, 7 dari 10 anak muda merasa takut ketinggalan tren konsumsi atau investasi.
  • Studi di National Library of Medicine (2024) menunjukkan bahwa semakin kuat rasa FOMO seseorang, semakin rendah tingkat kesejahteraan finansialnya.
  • Artikel di Salon (2025) menemukan bahwa 40% Gen Z pernah berutang karena pembelian impulsif dari sosial media.
  • Riset lokal Journal Keberlanjutan (2024) menyebut influencer dan algoritma sosial media sebagai pemicu utama perilaku konsumtif di kalangan muda.

Kesimpulannya bahwa, Gen Z bukan “boros”, tapi hidup di era digital yang penuh tekanan sosial yang di mana semua orang pamer versi “terbaiknya”.

Langkah Simpel Biar Gak Jadi Korban FOMO

Pause dulu, jangan langsung beli. Setiap kali ngerasa pengen beli karena liat orang lain, tahan dulu 24 jam. Kalau setelah sehari Kita masih pengen dan alasannya logis, baru pertimbangkan.


Tanya diri sendiri 3 hal sebelum checkout:

  • Apakah ini beneran bikin hidupku lebih baik 6 bulan ke depan?
  • Kalau gak bisa aku post di Instagram, aku masih mau beli gak?
  • Ada alternatif yang lebih murah atau lebih penting gak?
  • Kalau dua dari tiga jawabannya “tidak”, ya itu FOMO.

Ubah dorongan impuls jadi tabungan kecil.

Setiap kali Kita tergoda, alihkan uangnya ke tabungan atau investasi kecil. Misal: Kita pengen beli sepatu Rp500 ribu, tapi tahan langsung pindahkan Rp100–200 ribu ke rekening tujuan.


Nikmatin rasa puas karena “bisa nahan”, bukan karena “ikut tren”. Kalo kata opa Warren “Be fearful when others are greedy, and be greedy when others are fearful.” Buffett ngingetin kita buat gak ikut kerumunan. FOMO sering muncul saat banyak orang “rakus” karena tren padahal yang bijak justru yang tenang dan sabar.


Penutup

FOMO itu manusiawi, apalagi buat kita yang tumbuh di era notifikasi tanpa henti. Tapi Kita bisa ubah rasa “takut ketinggalan” jadi rasa tenang karena Kita tahu arah finansialmu sendiri.


Mulai minggu ini, coba satu langkah sederhana. Tunda satu pembelian yang muncul gara-gara scrolling. Catat hasilnya di akhir minggu. Selain itu, kalau Kita pengen bantu diri sendiri lebih sadar finansial, mungkin Finku bisa bantu Kita untuk lihat pengeluaran, atur budget, dan capai tujuan keuangan dengan tenang. Jadi Kita bisa siapin budget untuk Fomo versi Kita sendiri.


Tanpa ribet, tanpa tekanan, dan tanpa FOMO. Karena di dunia yang serba cepat, kadang yang paling keren itu justru ✨ nggak ikut-ikutan, tapi tetap on track dengan diri sendiri.






⚠️
Disclaimer : Semua artikel dari Finku ditujukan untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan nasihat keuangan.
Berikan penilaianmu: